PAHAM API PENYUCIAN

Paham bahwa sesudah mati dosa-dosa seseorang masih mungkin untuk diampuni tidak hanya berdasarkan 2Mak 12 saja, tetapi juga pada Mat 12:32 sbb:

“Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.”

Kesimpulan yang bisa kita tarik dari ayat ini ialah: kalau ada dosa tertentu yang tidak dapat diampuni baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang, maka ada pula dosa-dosa lain yang bisa diampuni baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.

Masalahnya sekarang: di mana dan bagaimana dosa-dosa itu diampuni? Kalau orang masuk surga, itu berarti dia tentu sudah tidak lagi mempunyai dosa yang membutuhkan pengampunan. Sebaliknya kalau orang masuk neraka, ia tidak lagi mempunyai kemungkinan untuk masuk surga (bdk. Luk 16:19-31). Maka, keadaan orang yang sudah masuk surga atau yang sudah masuk neraka itu adalah keadaan yang sudah tidak bisa diubah lagi (definitif).

Dari situlah muncul keyakinan bahwa pasti ada keadaan ketiga, di mana dosa-dosa orang yang sudah mati itu masih mungkin diampuni, sehingga bisa mengubah keadaan mereka. Inilah: api penyucian.

Api penyucian adalah keadaan sementara di mana orang yang sudah mati tidak langsung masuk neraka, tetapi juga belum bisa masuk surga, karena ia masih membawa akibat-akibat dosa yang melekat. Dalam paham Katolik, setiap dosa tidak hanya menjauhkan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengakibatkanketidaksempurnaan (kerusakan) dan cacat bagi jiwanya. Jadi meskipun dosa-dosa itu sudah diampuni, tidak berarti semuanya jadi beres, sebab ada akibat/silih/hukuman dosa yang masih perlu ditanggung olehnya (bdk. Mat 12:36). Di mana orang menjalani semua itu kalau ia sudah keburu mati? Tidak mungkin itu dijalani di neraka atau di surga yang sudah definitif itu. Maka, menurut paham Katolik, di api penyucian itulah tempatnya.

Api penyucian sifatnya sementara. Di sanalah terjadi proses pemurnian: hati orang disiapkan agar pantas bersatu dengan Tuhan. Di sanalah orang menjalani silih/hukuman akibat dosanya. Proses semacam ini menyakitkan, maka dilambangkan dengan api. Bagaikan emas yang dimurnikan dalam api.