MENGAPA GEREJA KATOLIK MENGIZINKAN PENGGUNAAN PATUNG?

Manusia itu makhluk yang membutuhkan lambang atau simbol. Salah satu contoh adalah foto. Banyak orang memasang foto orang yang dicintainya. Orang memperlakukan foto dengan baik. Semua tahu bahwa foto itu bukanlah orang yang dikasihinya. Itu cuma gambar yang fungsinya untuk mempermudah ingatan pada orang yang dikasihinya itu. Kalau orang memakai akal budi saja, ia bisa mengatakan, “Ah, apa gunanya foto! Itu khan bukan orangnya sendiri.” Tetapi manusia tidak hanya punya akal budi belaka, tetapi juga punya perasaan dan hati.

Umat Katolik memasang gambar atau patung Yesus, Maria maupun orang-orang kudus lain supaya mudah ingat pada pribadi-pribadi yang digambarkan atau dipatungkan itu. Selain itu dengan memandangnya, orang dapat lebih mudah mengarahkan budi dan hatinya. Memang orang bisa berkata, “Gambar dan patung tidak perlu, orang bisa langsung berdoa tanpa semuanya itu.” Tetapi, sekali lagi, manusia tidak terdiri dari akal budi saja, melainkan juga perasaan dan hati.

Dan bukankah pada kenyataannya orang yang berkeras menolak gambar atau patung orang-orang kudus, ternyata ia bisa menghormati bendera, suka juga menyimpan foto kekasih dan bisa menghargai patung pahlawan. Jadi ia bersikap mendua atau memakai kapasitas manusiawinya secara tidak konsisten. Ketika melihat patung atau gambar kudus, ia menolak atau menekan penggunaan kapasitas hati dan perasaannya. Tetapi ketika melihat bendera, foto kekasih atau patung pahlawan, ia membiarkan hati dan perasaannya bekerja.