BERDOA ROSARIO, NOVENA DAN LITANI

DILARANG OLEH YESUS ?

Umat Katolik sangat akrab dengan doa rosario, novena dan litani. Namun doa-doa ini juga sering diserang. Inilah satu kutipan dari sebuah buku yang mengkritik doa-doa itu:

Jangan mengulang-ulang doa, itulah pengajaran Yesus dalam Mat 6:7. Dikatakan: ‘Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah’. Terjemahan dalam bahasa Indonesia itu tidak tepat, sebab dalam bahasa Inggris bunyinya adalah: “Do not pray in repetition…”. Jadi yang dimaksud Yesus adalah agar kita tidak mengulang-ulang kalimat-kalimat dalam doa kita!

Maka, saya menghimbau saudara-saudara saya dari umat Katolik untuk mematuhi ajaran Yesus ini. Tinggalkanlah cara Anda berdoa yang mengulang-ulang itu! Doa novena, doa rosario, doa litani dan lainnya. Anda ditempelak oleh Yesus Kristus dengan ‘kafir’, kalau terus berdoa demikian! Dan doa-doa saudara belum tentu dikabulkan oleh Tuhan!”

Bagaimana menjawab kritikan itu?

Jawaban satu per satu:

  1. Pertama-tama, mari kita jawab kritik itu dengan kenyataan bahwa sudah tak terhitung lagi doa umat melalui rosario, novena atau litani yang sudah dikabulkan Tuhan. Kesaksian itu begitu banyak! Selain melalui ungkapan syukur dalam misa, umat bahkan kadang-kadang juga menyatakan syukur atas terkabulnya doa-doa itu lewat media-media cetak (baca saja surat-surat kabar dan majalah). Jadi bagaimana mungkin pengkritik tadi mengatakan, “doa-doa saudara belum tentu dikabulkan Tuhan!”? Rupanya ia mengambil kesimpulan tanpa survey mendalam (terlanjur gelap mata).
  2. Kedua, terjemahan Indonesia atas Mat 6:7 menurut pengkritik itu kurang tepat. Menurut dia, yang tepat adalah terjemahan Inggris yang berbunyi: “Do not pray in repetition…” (Jangan mengulang-ulang kalimat dalam doa). Padahal ternyata terjemahan Inggris untuk ayat ini tidak hanya satu itu. Dan malahan terjemahan yang dibenarkan oleh pengkritik itu tidak sesuai dengan sebagian besar terjemahan Inggris yang ada. Ini buktinya:
    1. Today’s English Version Bible bunyinya: “Do not use a lot of meaningless words” (= Jangan memakai banyak kata kosong).
    2. Revised Standard Version Bible bunyinya: “Do not heap up empty phrases” (= Jangan menumpuk kalimat-kalimat kosong).
    3. New International Version Bible bunyinya: “Do not keep on babbling like pagans” (= Jangan berceloteh terus seperti orang-orang kafir).
    4. Masih ada Phillips Modern English, Jerusalem Bible dan New English Bible, yang terjemahannya sama dengan New International Version itu.

Kalau dibandingkan dengan terjemahan-terjemahan Inggris di atas, maka justru terjemahan Indonesia itu sudah sangat tepat, yaitu: “Jangan bertele-tele…” (=meaningless words, empty phrases, babbling).

“Bertele-tele” itu sebenarnya menerjemahkan kata Yunani battalogeo, yang berarti:mengucapkan banyak kata secara cepat, tanpa pikir, secara beruntun dan tidak jelas. Semacamberceloteh atau memberondong dengan kata-kata tidak karuan dan tidak jelas bunyinya. Maka yang dikecam Yesus jelas bukan rumusan doa seperti doa rosario, novena atau litani.

Apakah Yesus menolak orang yang mengucapkan doa berulang-ulang? Ya jelas tidak. Baca saja:

  • Mzm 136 mempunyai REFREN: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.”
  • Why 4:8 mengatakan bahwa para penghuni surga TAK HENTI-HENTINYA berseru, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah yang Mahakuasa.”
  • Mrk 10:47-49 menceritakan: ...mulailah ia (Bartimeus) berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”. Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti…

Jadi, pengkritik itu pasti belum pernah berdoa dengan Mzm 136. Ia juga tidak rendah hati seperti Bartimeus. Dan kelak ia pasti akan kaget ketika mendengar dari surga keluar seruan para malaikat yang tanpa henti mengulang refren yang sama.

Marilah kita tetap berdoa rosario, novena dan litani yang jelas-jelas sejalan dengan tradisi para pendoa dalam Kitab Suci.