APAKAH PEMBAPTISAN BAYI / ANAK

SESUAI DENGAN ALKITAB ?

Tidak jarang praktek pembaptisan bayi yang menjadi tradisi Gereja Katolik dianggap tidak sesuai dengan Alkitab. Alasannya: bayi belum bisa beriman. Biarlah ia memilih imannya sendiri kelak kalau ia sudah cukup besar untuk dapat memutuskan. Benarkah argumen itu?

Jawaban:

1. Pertama-tama harus disadari bahwa dalam Alkitab tidak ada satu ayat pun yang eksplisit melarang pembaptisan bayi. Sebaliknya, ayat yang memerintahkan pembaptisan bayi pun juga tidak ada. Namun pertimbangkanlah ayat ini: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 19:14). Apakah Yesus menolak seseorang untuk dibaptiskan dengan alasan ia masih bayi/anak?

2. Yesus sendiri memang dibaptis pada usia 30 tahun. Ada orang yang berargumen: “Pengikut Kristus mestinya mengikuti teladan Kristus, berarti pembaptisan harus pada usia dewasa”. Argumen ini salah, karena:

  • Ada perbedaan antara pembaptisan Yesus dengan pembaptisan pengikut Kristus:
    • Pembaptisan Yesus adalah tanda solidaritas Yesus dengan manusia, yang ditunjukkanNya dengan ikut antre bersama-sama dengan orang banyak untuk dibaptis oleh Yohanes. Yesus tidak berdosa, namun Ia mau menyamakan diri dengan manusia yang berdosa. Yohanes mula-mula menolak untuk membaptis Yesus (Mat 3:14). Namun Yesus sendiri memandang pembaptisanNya harus dilakukan sebagai penggenapan kehendak Allah (Mat 3:15).
    • Sedangkan, pembaptisan pengikut Kristus adalah tanda penghapusan dosa, pengangkatannya menjadi anak Allah, serta dimasukkannya menjadi anggota Gereja.

Maka memperbandingkan pembaptisan Yesus dengan pembaptisan pengikut Yesus (dalam hal ini pembaptisan bayi/anak) bukanlah perbandingan yang tepat pada tempatnya.

  • Dan lagi, kalau orang menentang pembaptisan bayi dengan argumen “mau persis seperti Yesus”, mestinya dia juga harus konsekwen untuk tidak menikah, untuk mati disalib, sebab dia khan “mau persis seperti Yesus”. Tetapi kok ternyata tidak. Argumen “mau persis seperti Yesus” HANYA untuk membenarkan cara pembaptisannya sendiri saja (hanya baptis dewasa itu)!

3. Yesus disunatkan dan diberi nama Yesus ketika genap berusia delapan hari (Luk 2:21). Praktek sunat adalah tanda inisiasi ke dalam agama Yahudi, sebab dengan sunat orang diikutsertakan ke dalam perjanjian dengan Allah Abraham. Padahal pada umur delapan hari manusia belum dapat berpikir dan memilih agamanya sendiri. Dan Yesus pun menjalani itu (tidak pernah protes)! Jadi adakah yang salah dengan pembaptisan bayi/anak oleh Gereja Katolik yang merupakan inisiasi ke dalam Perjanjian Baru?

4. Gereja Katolik mempraktekkan pembaptisan bayi karena sejak perdana memang begitulah yang terjadi. Ingat bahwa Gereja Katolik bukan Gereja yang baru muncul 500 tahun yang lalu dan baru kemudian menetapkan cara pembaptisan. Pembaptisan bayi ini adalah praktek yang sudah ada sejak Gereja (Katolik) Perdana, dan berlangsung sampai hari ini.

Gereja-gereja yang baru lahir sajalah yang merasa “menemukan” cara pembaptisan “paling tepat” karena merasa menafsirkan Alkitab secara “lebih benar”. Gereja Katolik sudah sedari mula mempraktekkan pembaptisan bayi/anak.

Maka kita hanya perlu menunjukkan indikasi-indikasi praktek pembaptisan bayi itu, misalnya:

  • Pertama-tama adalah beberapa indikasi dalam Alkitab. Menurut Kis 16:15, Lydia dibaptis “bersama-sama dengan seisi rumahnya”. Begitu pula menurut Kis 16:33, kepala penjara Filipi “dan keluarganya memberi diri dibaptis”. Lihatlah bahwa dalam Gereja Perdana sudah biasa terjadi pembaptisan bagi seluruh isi keluarga. Hal ini berarti: kalau ada bayi dalam keluarga itu, bayi itu juga ikut dibaptis.
  • Kesaksian St. Polikarpus yang dibunuh sebagai martir pada tahun 155 M. Ketika ia dipaksa untuk menyangkal Yesus dan menyembah kaisar Roma, ia berseru: “Delapan puluh enam tahun saya menjadi hambaNya, dan Ia tidak pernah berbuat yang tidak baik kepadaku. Bagaimana mungkin saya dapat mengkhianati Rajaku yang telah menebus saya?” Kesaksian ini menunjukkan bahwa St. Polikarpus dibaptis sekitar tahun 70 M. Kiranya pada tahun 70 itu ia masih bayi atau kanak-kanak, sebab kalau tahun itu ia sudah dewasa, alangkah tinggi usianya (hampir tidak mungkin). Dan lihatlah, jelas bahwa pada abad pertama pun sudah terjadi praktek pembaptisan bayi atau kanak-kanak.

5. Gereja Katolik berpegang bahwa adalah tugas orang tua untuk memberikan apa yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk iman.

Jika, dan hanya jika, orang tua memandang imannya akan Kristus sebagai yang sangat berharga, mengapa harus menolak memberikan (=mengajarkan, membawa masuk ke dalam) iman itu juga kepada anak-anaknya?

Jika, dan hanya jika, orang tua yakin bahwa imannya itu perlu untuk keselamatan, perkembangan dan kesejahteraan jiwanya, mengapa menolak membaptiskan anak-anak demi kesejahteraan jiwa mereka juga?

Tentu orang tua masih dituntut tanggung jawab terhadap pemeliharaan iman anak itu dalam perkembangannya, sampai ia dewasa dan akhirnya ia sendiri bisa mengakui imannya dengan penuh kesadaran.

Maka pertanyaannya: Maukah orang tua bertanggung jawab untuk menanamkan iman kepada anak dan memeliharanya? Jangan-jangan hanya karena takut bertanggung jawab untuk menanam dan memelihara iman anak, maka keluarlah alasan yang kayaknya indah: “Biarlah anak itu nanti memilih imannya sendiri”. Itu sebenarnya adalah tanda pengecut. Wake up. You are catholic!