EKARISTI TIDAK BERDASARKAN KITAB SUCI?

Ekaristi, yang merupakan bagian sangat penting dalam iman Katolik, sering diserang. Inilah satu kutipan dari sebuah buku yang mengkritik ekaristi dalam Gereja Katolik:

“Sungguh menarik bahwa misa yang dipraktekkan Gereja Katolik hampir identik dengan kebiasaan “kurban tak berdarah” yang dipraktekkan dalam kerajaan Romawi, pada awal masa pembentukan Gereja Katolik…. Jelas bahwa doktrin Katolik, yang mengorbankan Yesus kembali pada setiap perayaan misa, datang dari seremoni-seremoni orang kafir, bukan dari firman Allah yang tercatat dalam Alkitab.

Sekalipun ekaristi mirip dengan Perjamuan Kudus dalam Gereja Kristen, tetapi artinya sangat berbeda. Ekaristi (dalam Gereja Katolik) adalah pengulangan pengorbanan Kristus”.

Bagaimana menjawab kritikan itu?

Pada dasarnya kritikan itu menuduhkan dua hal:

  1. Ekaristi di Gereja Katolik merupakan penciptaan kurban-kurban baru sebagai saingan kurban Yesus di salib; atau pengulangan kurban Yesus di salib, yang bertentangan dengan Ibr 9:24-28 (bahwa kurban Yesus itu terjadi satu kali untuk selamanya).

  2. Ekaristi di Gereja Katolik tidak bersumber dari Kitab Suci, tetapi dari kebiasaan Romawi kafir.

Penjelasan satu per satu:

  1. Menurut Gereja Katolik, ekaristi jelas merupakan peringatan akan perjamuan malam terakhir Yesus. Dan pelaksanaan ekaristi ini juga atas perintah Yesus sendiri: “PERBUATLAH INI menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19; bdk. 1Kor 11:24). Dalam ayat itu terdapat kata “anamnesis” (bahasa Yunani) atau “memoria” (bahasa Latin), yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “peringatan”. Terjemahan ini sebenarnya kurang tepat, sebab makna “anamnesis” / ”memoria” adalah “penghadiran kembali”. Maka pesan Yesus dalam Luk 22:19 sebenarnya adalah: “Perbuatlah ini untuk menghadirkan Aku kembali”.

    Nah, pertanyaan berikutnya: Yesus yang bagaimana yang dihadirkan kembali itu? Jawabannya: Yesus yang memberikan diriNya sehabis-habisnya, sebab Ia bersabda, “Inilah tubuhKu yang DISERAHKAN BAGI KAMU” (Luk 22:19) dan “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang DITUMPAHKAN BAGI KAMU” (Luk 22:20). Perjamuan malam terakhir Yesus dengan demikian merupakan ANTISIPASI kurban Yesus di salib! Dan kurban Yesus di salib ini, menurut Ibr 9:24-28, terjadi satu kali untuk selamanya.

    Maka, tidak ada pertentangan antara ekaristi dengan Ibr 9:24-28, sebab ekaristi adalah penghadiran kembali Dia yang memberikan diri sepenuhnya kepada para rasul (Gereja). Pemberian diri Yesus dalam perjamuan malam terakhir ini mengantisipasi kurban Yesus di kayu salib. Dalam arti itu, ekaristi juga merupakan penghadiran kembali kurban Yesus di salib yang terjadi satu kali untuk selamanya itu. Dan ekaristi adalah amanat Yesus sendiri (“Perbuatlah ini…”). Jadi, apakah ekaristi adalah “kurban baru” yang dibikin-bikin oleh Gereja Katolik untuk menyaingi kurban Kristus di salib? Yang mengira begitu hanyalah orang yang tidak memahami Kitab Suci. Orang itu tampaknya menghantam memakai ayat-ayat Kitab Suci, tetapi sebenarnya tidak menyimak Kitab Sucinya sendiri dengan seksama.

  2. Dari uraian no. 1 di atas kiranya jelas bahwa ekaristi kita adalah kehendak Yesus sendiri sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci.Dalam Doa Syukur Agung yang merupakan inti ekaristi, pada waktu konsekrasi, imam mengucapkan kata-kata institusi, yang tidak lain adalah sabda Yesus dalam perjamuan malam terakhir itu.

    Jadi, bagaimana mungkin ekaristi berasal dari seremoni-seremoni kafir Romawi? Hanya orang yang sudah terlanjur berprasangka buruk terhadap Gereja Katolik saja yang tetap punya kata untuk berkilah. Nah, orang yang begitu itu tidak layak didengarkan. Marilah kita merayakan ekaristi dalam Gereja Katolik seturut pesan Kitab Suci dan tradisi para rasul.