EKARISTI ADALAH PENYEMBAHAN BERHALA?

Dalam sebuah buku yang mengkritik iman Katolik tertulis:

Umat Katolik harus menyembah dan memuja hosti dan berlutut. Mereka juga mengaraknya dalam prosesi dan setiap orang berlutut dan menyembah hosti yang telah menjadi “Yesus” mereka…. Jadi mereka bukan hanya membuat “patung” yang menyerupai roti kecil, lalu memaklumkannya sebagai “Yesus”, tetapi juga berlutut dan menyembah roti kecil itu. Seluruh praktek itu dilarang Tuhan.

Benarkah argumen itu?

 

Penjelasan:

Kalau hosti itu tidak menghadirkan Yesus Kristus sendiri, memang umat Katolik jadi penyembah berhala. Tetapi bagi umat Katolik hosti kudus adalah memang benar-benar Tubuh Kristus. Dengan demikian itu jelas bukan penyembahan berhala.

Dari mana umat Katolik memiliki keyakinan seperti itu? Ya dari mana lagi kalau bukan dari Kitab Suci sendiri. Sebab dalam perjamuan malam terakhir, setelah memecah-mecahkan roti dan membagikannya kepada para murid, Yesus bersabda, “Inilah TubuhKu yang diserahkan bagi kamu;perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19). Dan atas cawan anggur Yesus bersabda, “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:20). Dalam pemahaman Ibrani, kata “tubuh” mewakili seluruh pribadi manusia, begitu juga kata “darah”. Dengan demikian Yesus jelas memberikan seluruh diriNya. Ekaristi merupakan kelanjutan misteri penjelmaan (inkarnasi) yang kita rayakan pada hari Natal. Dalam misteri penjelmaan, Allah yang serba maha itu berkenan menjadi manusia melalui rahim Maria. Dan dalam perjamuan malam yang terakhir, Yesus Kristus berkenan hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur.

Karena Yesus juga berpesan: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”, dan Paulus juga menulis kepada umat di Korintus: “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26), maka Gereja sampai akhir zaman tidak akan pernah berhenti melaksanakan upacara Pemecahan Roti, yang disebut juga dengan istilah Perjamuan Kudus, Ekaristi atau Misa.

Dan lebih telak lagi Paulus menambahkan: “Karena barangsiapa makan dan minumtanpa mengakui Tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1Kor 11:29). Oleh karena itu hosti dan anggur bukanlah simbol (=berhala) belaka, melainkan benar-benar Tubuh Kristus itu. Atau, silakan saja orang menganggap itu sekedar simbol Yesus, tetapi konsekuensinya: “ia mendatangkan hukuman atas dirinya”.

Sudah sejak Gereja Perdana (Gereja zaman para rasul), perayaan Ekaristi dengan pembagian hosti kudus dilaksanakan sebagai pelaksanaan amanat Yesus. Bacalah Kis 2: 46 (“memecahkan roti”= ekaristi); Kis 6:2 (“melayani meja”= ekaristi). Hingga hari ini pelaksanaan amanat Yesus itu tidak pernah putus dalam Gereja Katolik, dan akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Jadi kita ini melaksanakan amanat Yesus seperti tertulis dalam Kitab Suci, tetapi para pengkritik menganggap itu penyembahan berhala (!). Bukankah Martin Luther sendiri pernah menulis: “Saya percaya bahwa tubuh (Kristus) ada di surga. Saya percaya juga bahwa tubuhNya ada di dalam Sakramen (Ekaristi). Saya tidak peduli apakah hal itu bertentangan dengan kodrat/alam atau tidak, asalkan hal itu tidak bertentangan dengan iman.”

Maka, silakan menyimpulkan sendiri: siapa sekarang yang setia dan yang tidak setia pada Kitab Suci? Marilah kita merayakan ekaristi dalam Gereja Katolik seturut pesan Kitab Suci dan tradisi para rasul.