TENTANG PERSEPULUHAN

Hampir semua Gereja Kristen mewajibkan persepuluhan. Pendasaran mereka salah satunya adalah Mat 23:23, “ Yang satu (= membayar persepuluhan) harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”.

Bagaimana cara pandang Katolik terhadap pendasaran ini?

Jawaban:

Marilah kita tidak melepaskan ayat itu dari konteksnya. Ayat 23 tidak hanya satu kalimat itu, tetapi:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Bila kita baca seluruh ayat itu, kita akan menemukan:

PERTAMA: dalam ayat ini (dan seluruh Mat bab 23) Yesus terutama sedang berbicara kepada dan tentang orang-orang Farisi. Ketika Yesus berkata, “Yang satu (= persepuluhan) harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan”, sebenarnya Ia cuma berkata kepada lawanNya, “Yang satu harus kamu (= orang Farisi) lakukan, yang lain jangan kamu abaikan”.

KEDUA: Yesus saat itu sedang memasuki cara berpikir mereka sambil mengoreksi kekeliruan mereka. Mereka dikritik karena merasa sudah “aman” dengan sudah membayar persepuluhan (ini kewajiban orang Farisi lho), namun tidak peduli soal keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.
Maka, mengapa Mat 23:23disimpulkan lebih-lebih sebagai tuntutan bagi pengikutNya? Yesus tidak sedang menarik kesimpulan apa-apa untuk tata tertib pengikutNya. Ia tidak sedang memerintahkan kewajiban bagi orang Kristen dalam ayat ini.

KETIGA: persepuluhan yang dibicarakan Yesus dalam ayat itu pun sebenarnya adalah persepuluhan khusus, yaitu persepuluhan yang dipraktekkan oleh kaum Farisi dan ahli Taurat sendiri. Yesus sempat menyebutkan isinya: persepuluhan atas selasih, adas manis dan jintan. Praktek ini menurut beberapa penafsir merupakan penerapan hukum persepuluhan (Im 27:30) secara berlebihan. Maka kalau atas dasar Mat 23:23 persepuluhan mau diterapkan kepada orang Kristen, mestinya ya persepuluhan berupa selasih, adas manis dan jintan dong.

Kini praktek Gereja Katolik lebih menekankan sumbangan sukarela seperti yang ditekankan dalam 2Kor 9:7, “Hendaknya masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Mari kita senyum saja terhadap kritik (hasil salah tafsir karena ceroboh kutip ayat) itu. Kalau melihat praktek hidup umat Katolik yang murah hati dan ikhlas menyumbang dalam segala hal (untuk gereja/paroki lain, korban bencana, panti asuhan, aksi peduli sosial/ lingkungan hidup), masak iya sih kita masih salah juga gara-gara tidak ada persepuluhan? Lagian, Yesus juga tidak menuntut persepuluhan dalam Mat 23:23 itu.