ANAK ALLAH HARUS KAYA?

Kadang-kadang ada gereja non Katolik yang menarik-narik orang Katolik agar masuk ke dalamnya dengan alasan: di sana orang mendapat jaminan akan jadi orang sukses dan kaya, sebab anak Allah tidak boleh miskin dan menderita, anak Allah adalah anak Raja.
B
enarkah alasan itu?

Dalam pewartaan para rasul, seperti yang tercermin dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus, dapat kita amati bahwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus sering disebut bersamaan. Sengsara dan wafat Yesus di satu sisi, dan kebangkitanNya yang mulia di lain sisi. Namun keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Yang satu tidak mempunyai arti tanpa yang lain. Keduanya merupakan fakta sentral dan fundamental bagi iman Kristen. Hal ini dapat kita simpulkan dari teks-teks berikut: Kis 2:23; Kis 3:15; 1Kor 15:3.

Dengan demikian tidak mengherankan bahwa para penginjil memberi tempat yang istimewa kepada Kisah Sengsara Yesus Kristus, bahkan melebihi tempat yang mereka sediakan untuk Kisah Kebangkitan Yesus. Hal ini memang bertentangan dengan kecenderungan manusia untuk melupakan masa lampau yang pahit dan kelabu. Mengapa para penginjil memberi tempat istimewa kepada Kisah SengsaraNya? Jawabannya ialah: karena “bagi kita yang diselamatkan, pemberitaan (salib) itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18). Para penginjil melihat bahwa sengsara dan wafat Yesus adalah sumber keselamatan dari Allah, bukan tanda kutukan. Itulah sebabnya Paulus bisa berkata, “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal 6:14).

Selanjutnya ada alasan lain yang menyebabkan Kisah Sengsara mendapat tempat istimewa, yaitu: karena kesengsaraan harus menjadi bagian dari kehidupan orang-orang Kristen. Kis 14:22 mengatakan, “Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara”. Bandingkan dengan ayat ini juga: “Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya” (1Ptr 2:20-21).

Seperti itulah Yesus yang diwartakan para rasul, dan seperti itu jugalah seharusnya hidup setiap orang Kristen yang mau bersatu dengan Kristus dalam segala hal. Maka kecenderungan orang untuk menghindari sengsara dan hanya mengejar yang baik saja (kaya, sukses, dsb) tidak sesuai dengan Injil. Tidak berarti bahwa kita harus “mencari-cari salib”. Tidak. Salib selalu ada pada kita, kita cuma harus memanggulnya bersama Kristus.

Maka, ya silakan mengikuti janji-janji untuk sukses dan kaya. Namun, ingat, itu bukanlah ajakan untuk mengikuti Kristus sebagaimana diwartakan Kitab Suci. Itu adalah Kristus menurut tafsiran mereka sendiri.