HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (EPIFANI)

( Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, no. 118 )

Banyak tradisi dan ungkapan asli kesalehan umat berkembang di seputar hari raya Penampakan Tuhan ini. Asal usulnya sudah sangat tua dan sarat dengan muatan rohani yang indah. Misalnya:

  1. Pemakluman meriah Hari Raya Paskah dan pesta-pesta utama yang jatuh pada Hari Minggu. Hal ini menunjukkan kaitan erat antara Epifani dan Paskah, serta mengarahkan semua pesta kepada hari raya terbesar umat Kristiani (Paskah) itu.
  2. Saling menyampaikan “bingkisan Epifani”. Hal ini meniru para majus yang memberikan bingkisan kepada Kanak-kanak Yesus (bacaan Injil hari ini).
  3. Pemberkatan rumah.Jenang-jenang pintu rumah ditandai dengan tanda salib, angka tahun yang baru danhuruf pertama nama tiga orang majus (C+M+B). Inisial nama tiga orang majus itu juga dapat ditafsirkan sebagai Christus Mansionem Benedicat (Semoga Kristus memberkati rumah ini).
  4. Ungkapan solidaritas kepada para pendatang yang berasal dari tempat yang jauh. Misalnya: pengungsi, tenaga kerja dari luar wilayah/negara asing.
  5. Bantuan untuk karya evangelisasi. Ungkapan dukungan terhadap karya misi.
  6. Penyerahan kepada Santo Pelindung. Komunitas religius atau perkumpulan awam bisa menetapkan pelindung bagi para anggota yang akan bergabung di tahun yang mulai berjalan ini.

PESTA KELUARGA KUDUS

(Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, no. 112)

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf (Minggu dalam oktaf Natal) merupakan kesempatan yang sangat cocok untuk merayakan upacara dan doa-doa yang khas untuk keluarga Kristiani. Peringatan Yusuf, Maria dan kanak-kanak Yesus yang pergi ke Yerusalem, bersama keluarga-keluarga saleh Yahudi lainnya, untuk merayakan Paskah (bdk. Luk 2:41-42), hendaknya mendorong pengamalan saran pastoral yang baik, yakni semua anggota keluarga menghadiri misa hari ini. Pesta ini juga memberikan kesempatan untuk membarui penyerahan kita kepada perlindungan Keluarga Kudus Nazaret; pemberkatan anak-anak sebagaimana disajikan dalam rituale; dan kalau dianggap cocok, pembaruan janji perkawinan, juga pemberkatan pertunangan di saat kedua calon yang mau menikah secara formal mengungkapkan keinginannya untuk membangun satu keluarga Kristiani baru.

Read more: Pesta Keluarga Kudus

HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

Pada hari pertama tahun baru, hari oktaf Natal, Gereja merayakan hari raya Bunda Allah yang kudus. Keibuan Ilahi St. Perawan Maria merupakan peristiwa penyelamatan yang istimewa: bagi Bunda kita, ini merupakan pencicipan dan sekaligus alasan untuk kemuliaannya yang luar biasa; bagi kita, ini merupakan sumber rahmat dan keselamatan, karena “lewat dialah kita menerima Pencipta kehidupan”.

Di dunia Barat, tanggal 1 Januari adalah hari pertama yang menandai mulainya tahun sipil. Kaum beriman juga terlibat dalam perayaan-perayaan untuk mengawali tahun baru, dan mereka saling memberi ucapan “Selamat Tahun Baru”. Namun kaum beriman hendaknya berusaha memberi nuansa Kristiani kepada kebiasaan ini dengan membuat salam tersebut menjadi ungkapan kesalehan umat. Kaum beriman, lazimnya, menyadari bahwa “tahun baru” berada di bawah perlindungan Tuhan. Maka, dengan saling memberikan ucapan “Selamat Tahun Baru”, secara implisit dan eksplisit umat beriman menempatkan Tahun Baru di bawah kuasa Tuhan, sebab milikNyalah segala waktu (bdk. Why 1:8; 22:13).

Read more: Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, Hari Perdamaian Sedunia

Apa makna simbolis dari Lingkaran Adven?

[a] Bentuk lingkaran itu sendiri melambangkan perputaran waktu, kepenuhan waktu, simbol kesempurnaan, kekekalan dan kesetiaan. Beberapa dekorator liturgis tidak lagi memakai bentuk lingkaran, sehingga simbol itu jadi lebih tepat disebut “rangkaian Adven”.

[b] Daun cemara hijau yang masih segar (evergreen) yang meliliti lingkaran melambangkan kesetiaan dan harapan, yang terus bertahan hidup meski musim dingin sekalipun, saat dedaunan lain rontok tak tahan cuaca. Kadang-kadang daun-daun itu dililiti pita atau kain, dan dihiasi asesori.

Read more: Lingkaran Adven

MENTALITAS MODERN

Di kalangan masyarakat dewasa ini tersebar kecenderungan “menyembunyikan kematian dan tanda-tandanya”, dan ini bisa mengakibatkan kesulitan-kesulitan yang muncul dari ajaran dan pastoral yang salah.

Para dokter, perawat dan kaum kerabat sering merasa harus merahasiakan kematian yang sudah mendekat dari si sakit, yang karena peningkatan pelayanan rumah sakit, hampir selalu meninggal di luar keluarga.

Sudah sering dikatakan bahwa dalam kota-kota besar tidak ada lagi tempat bagi orang mati:

  • dalam rumah-rumah susun hampir tidak mungkin lagi mendapat ruang untuk malam tirakatan bagi orang meninggal.
  • kepadatan lalu lintas tidak lagi memungkinkan prosesi jenazah karena akan memacetkan lalu lintas.
  • kuburan, yang dahulu pernah ditempatkan di sekeliling gereja dan sungguh menjadi “tanah suci” serta menunjukkan hubungan antara Kristus dan orang meninggal, kini ditempatkan jauh di luar desa dan kota, karena rancangan tata kota tidak lagi menyediakan kuburan.

Read more: Peringatan Arwah