MENGHADAPI TRAGEDI PERKAWINAN

(Kompendium Katekismus Gereja Katolik)

Bilamana Gereja mengizinkan perpisahan fisik antara pasangan suami-istri?

Gereja mengizinkan perpisahan fisik pasangan suami-istri jika karena alasan yang serius mereka tidak mungkin hidup bersama, walaupun mungkin ada harapan untuk rekonsiliasi. Tetapi selama salah satu dari pasangan itu masih hidup, yang lainnya tidak bebas untuk kawin lagi, kecuali jika perkawinan itu batal dan dinyatakan demikian oleh otoritas Gereja.

Apa sikap Gereja terhadap mereka yang cerai dan kemudian kawin lagi?

Gereja, karena setia kepada Tuhannya, tidak dapat mengakui perkawinan orang-orang yang secara sipil bercerai dan kawin lagi.

“Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin lagi dengan laki-laki lain, ia berbuat zina” (Mrk 10:11-12).

Read more: Menghadapi Tragedi Perkawinan, (Kompendium Katekismus Gereja Katolik)

SIKAP GEREJA TENTANG PERKAWINAN DENGAN DUA UPACARA AGAMA

 

Dilarang bahwasanya sebelum atau sesudah peneguhan kanonik (= upacara perkawinan Katolik) ... diadakan upacara keagamaan lain bagi perkawinan itu dengan maksud untuk menyatakan atau memperbaharui kesepakatan nikah; pun pula jangan diadakan upacara keagamaan, di mana peneguh katolik dan petugas tidak katolik secara bersama-sama menanyakan kesepakatan mempelai dengan masing-masing melakukan upacaranya sendiri.

(Kitab Hukum Kanonik - Kanon 1127 § 3)

Read more: Sikap Gereja Tentang Perkawinan Dengan Dua Upacara Agama

PERKAWINAN CAMPUR

Yang dimaksud dengan perkawinan campur di sini adalah perkawinan campur agama, yaitu: antara seorang yang dibaptis Katolik dan seorang yang tidak Katolik (bisa orang yang dibaptis di Gereja Protestan, maupun orang yang tidak dibaptis).

Gereja Katolik memberi kemungkinan untuk perkawinan campur karena membela dua hak asasi, yaitu: hak untuk menikah dan hak untuk memilih agama sesuai dengan hati nuraninya.

Keyakinan Gereja bahwa perkawinan antara 2 orang yang dibaptis adalah sakramen pada satu pihak, dan dimungkinkannya perkawinan campur pada lain pihak, tidak boleh diartikan bahwa: seakan-akan ada perkawinan kelas 1 dan perkawinan kelas 2. Perkawinan yang sudah diteguhkan secara sah dan dimohonkan berkat dari Tuhan (asal dilakukan dalam gereja Katolik atau dilaksanakan secara Katolik), semuanya berkenan di hadapan Tuhan. Semuanya dipanggil untuk memberikan kesaksian akan kasih Kristus kepada manusia.

Read more: Perkawinan Campur

SAHNYA SUATU PERKAWINAN KATOLIK

Untuk sahnya suatu perkawinan katolik dituntut 3 hal, yaitu: (1) kesepakatan nikah, (2) status bebas dan (3) tata peneguhan kanonik.

1. KESEPAKATAN NIKAH

Kesepakatan nikah adalah perbuatan kemauan dengan mana pria dan wanita saling menyerahkan diri dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan suatu perjanjian (bdk. kanon 1057 §2). Inilah yang merupakan inti perkawinan. Tak mungkin ada perkawinan tanpa perjanjian kasih ini (kesepakatan nikah).

2. STATUS BEBAS

Sebelum perkawinan diteguhkan haruslah pasti bahwa tiada suatu hal menghalangi peneguhan perkawinan tersebut secara sah dan halal (kanon 1066). Ada beberapa halangan yang membuat perkawinan tidak sah, yaitu:

Read more: Sahnya Suatu Perkawinan Katolik

DUA SIFAT HAKIKI PERKAWINAN KATOLIK

1. ANTARA SATU PRIA DAN SATU WANITA

Perkawinan katolik menolak poligami (satu pria menikahi beberapa wanita) dan poliandri (satu wanita menikahi beberapa pria). Mengapa harus satu dengan satu? Karena perkawinan secara kodrati bertujuan membangun kesatuan dari dua pribadi. Kitab Suci mengistilahkan: “keduanya menjadi satu daging”. Itu artinya, dua pribadi yang berbeda saling memperkaya membangun kesatuan hidup. Lebih lanjut perlu diingat bahwa perkawinan katolik bersumber dan mau meneladan kasih Kristus kepada umat-Nya. Dalam mengasihi umat-Nya Yesus memberikan diri secara total sampai tetes darah yang terakhir. Cinta Kristus yang total ini menjadi sumber kekuatan sekaligus model untuk cinta suami-isteri dan sebaliknya.

Read more: Dua Sifat Hakiki Perkawinan Katolik