HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

Pada hari pertama tahun baru, hari oktaf Natal, Gereja merayakan hari raya Bunda Allah yang kudus. Keibuan Ilahi St. Perawan Maria merupakan peristiwa penyelamatan yang istimewa: bagi Bunda kita, ini merupakan pencicipan dan sekaligus alasan untuk kemuliaannya yang luar biasa; bagi kita, ini merupakan sumber rahmat dan keselamatan, karena “lewat dialah kita menerima Pencipta kehidupan”.

Di dunia Barat, tanggal 1 Januari adalah hari pertama yang menandai mulainya tahun sipil. Kaum beriman juga terlibat dalam perayaan-perayaan untuk mengawali tahun baru, dan mereka saling memberi ucapan “Selamat Tahun Baru”. Namun kaum beriman hendaknya berusaha memberi nuansa Kristiani kepada kebiasaan ini dengan membuat salam tersebut menjadi ungkapan kesalehan umat. Kaum beriman, lazimnya, menyadari bahwa “tahun baru” berada di bawah perlindungan Tuhan. Maka, dengan saling memberikan ucapan “Selamat Tahun Baru”, secara implisit dan eksplisit umat beriman menempatkan Tahun Baru di bawah kuasa Tuhan, sebab milikNyalah segala waktu (bdk. Why 1:8; 22:13).

Read more: Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, Hari Perdamaian Sedunia

Apa makna simbolis dari Lingkaran Adven?

[a] Bentuk lingkaran itu sendiri melambangkan perputaran waktu, kepenuhan waktu, simbol kesempurnaan, kekekalan dan kesetiaan. Beberapa dekorator liturgis tidak lagi memakai bentuk lingkaran, sehingga simbol itu jadi lebih tepat disebut “rangkaian Adven”.

[b] Daun cemara hijau yang masih segar (evergreen) yang meliliti lingkaran melambangkan kesetiaan dan harapan, yang terus bertahan hidup meski musim dingin sekalipun, saat dedaunan lain rontok tak tahan cuaca. Kadang-kadang daun-daun itu dililiti pita atau kain, dan dihiasi asesori.

Read more: Lingkaran Adven

MENTALITAS MODERN

Di kalangan masyarakat dewasa ini tersebar kecenderungan “menyembunyikan kematian dan tanda-tandanya”, dan ini bisa mengakibatkan kesulitan-kesulitan yang muncul dari ajaran dan pastoral yang salah.

Para dokter, perawat dan kaum kerabat sering merasa harus merahasiakan kematian yang sudah mendekat dari si sakit, yang karena peningkatan pelayanan rumah sakit, hampir selalu meninggal di luar keluarga.

Sudah sering dikatakan bahwa dalam kota-kota besar tidak ada lagi tempat bagi orang mati:

  • dalam rumah-rumah susun hampir tidak mungkin lagi mendapat ruang untuk malam tirakatan bagi orang meninggal.
  • kepadatan lalu lintas tidak lagi memungkinkan prosesi jenazah karena akan memacetkan lalu lintas.
  • kuburan, yang dahulu pernah ditempatkan di sekeliling gereja dan sungguh menjadi “tanah suci” serta menunjukkan hubungan antara Kristus dan orang meninggal, kini ditempatkan jauh di luar desa dan kota, karena rancangan tata kota tidak lagi menyediakan kuburan.

Read more: Peringatan Arwah

MENGHADAPI TRAGEDI PERKAWINAN

(Kompendium Katekismus Gereja Katolik)

Bilamana Gereja mengizinkan perpisahan fisik antara pasangan suami-istri?

Gereja mengizinkan perpisahan fisik pasangan suami-istri jika karena alasan yang serius mereka tidak mungkin hidup bersama, walaupun mungkin ada harapan untuk rekonsiliasi. Tetapi selama salah satu dari pasangan itu masih hidup, yang lainnya tidak bebas untuk kawin lagi, kecuali jika perkawinan itu batal dan dinyatakan demikian oleh otoritas Gereja.

Apa sikap Gereja terhadap mereka yang cerai dan kemudian kawin lagi?

Gereja, karena setia kepada Tuhannya, tidak dapat mengakui perkawinan orang-orang yang secara sipil bercerai dan kawin lagi.

“Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin lagi dengan laki-laki lain, ia berbuat zina” (Mrk 10:11-12).

Read more: Menghadapi Tragedi Perkawinan, (Kompendium Katekismus Gereja Katolik)

SIKAP GEREJA TENTANG PERKAWINAN DENGAN DUA UPACARA AGAMA

 

Dilarang bahwasanya sebelum atau sesudah peneguhan kanonik (= upacara perkawinan Katolik) ... diadakan upacara keagamaan lain bagi perkawinan itu dengan maksud untuk menyatakan atau memperbaharui kesepakatan nikah; pun pula jangan diadakan upacara keagamaan, di mana peneguh katolik dan petugas tidak katolik secara bersama-sama menanyakan kesepakatan mempelai dengan masing-masing melakukan upacaranya sendiri.

(Kitab Hukum Kanonik - Kanon 1127 § 3)

Read more: Sikap Gereja Tentang Perkawinan Dengan Dua Upacara Agama