PERKAWINAN CAMPUR

Yang dimaksud dengan perkawinan campur di sini adalah perkawinan campur agama, yaitu: antara seorang yang dibaptis Katolik dan seorang yang tidak Katolik (bisa orang yang dibaptis di Gereja Protestan, maupun orang yang tidak dibaptis).

Gereja Katolik memberi kemungkinan untuk perkawinan campur karena membela dua hak asasi, yaitu: hak untuk menikah dan hak untuk memilih agama sesuai dengan hati nuraninya.

Keyakinan Gereja bahwa perkawinan antara 2 orang yang dibaptis adalah sakramen pada satu pihak, dan dimungkinkannya perkawinan campur pada lain pihak, tidak boleh diartikan bahwa: seakan-akan ada perkawinan kelas 1 dan perkawinan kelas 2. Perkawinan yang sudah diteguhkan secara sah dan dimohonkan berkat dari Tuhan (asal dilakukan dalam gereja Katolik atau dilaksanakan secara Katolik), semuanya berkenan di hadapan Tuhan. Semuanya dipanggil untuk memberikan kesaksian akan kasih Kristus kepada manusia.

Read more: Perkawinan Campur

SAHNYA SUATU PERKAWINAN KATOLIK

Untuk sahnya suatu perkawinan katolik dituntut 3 hal, yaitu: (1) kesepakatan nikah, (2) status bebas dan (3) tata peneguhan kanonik.

1. KESEPAKATAN NIKAH

Kesepakatan nikah adalah perbuatan kemauan dengan mana pria dan wanita saling menyerahkan diri dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan suatu perjanjian (bdk. kanon 1057 §2). Inilah yang merupakan inti perkawinan. Tak mungkin ada perkawinan tanpa perjanjian kasih ini (kesepakatan nikah).

2. STATUS BEBAS

Sebelum perkawinan diteguhkan haruslah pasti bahwa tiada suatu hal menghalangi peneguhan perkawinan tersebut secara sah dan halal (kanon 1066). Ada beberapa halangan yang membuat perkawinan tidak sah, yaitu:

Read more: Sahnya Suatu Perkawinan Katolik

DUA SIFAT HAKIKI PERKAWINAN KATOLIK

1. ANTARA SATU PRIA DAN SATU WANITA

Perkawinan katolik menolak poligami (satu pria menikahi beberapa wanita) dan poliandri (satu wanita menikahi beberapa pria). Mengapa harus satu dengan satu? Karena perkawinan secara kodrati bertujuan membangun kesatuan dari dua pribadi. Kitab Suci mengistilahkan: “keduanya menjadi satu daging”. Itu artinya, dua pribadi yang berbeda saling memperkaya membangun kesatuan hidup. Lebih lanjut perlu diingat bahwa perkawinan katolik bersumber dan mau meneladan kasih Kristus kepada umat-Nya. Dalam mengasihi umat-Nya Yesus memberikan diri secara total sampai tetes darah yang terakhir. Cinta Kristus yang total ini menjadi sumber kekuatan sekaligus model untuk cinta suami-isteri dan sebaliknya.

Read more: Dua Sifat Hakiki Perkawinan Katolik

PERKAWINAN KATOLIK

HAKEKAT DAN TUJUANNYA

Pembahasan tentang hukum perkawinan berawal dari Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983, kanon 1055:

  1. Perjanjian perkawinan, dengan mana pria dan perempuan membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri serta pada kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen .
  2. Karena itu antara orang-orang yang dibaptis tidak dapat ada kontrak perkawinan sah yang tidak dengan sendirinya merupakan sakramen.

Dalam kanon 1055 "1" dan "2" tersebut di atas termuat 5 gagasan pokok berkaitan dengan hakekat dan tujuan perkawinan. Yang pertama, yaitu:

Read more: Hakekat dan Tujuan Perkawinan Katolik